Blog · Review

Koran Nasibmu Kini

Sudah beberapa tahun belakangan ini, koran cetak tak lagi menjadi pilihan para penikmat berita. Banyak sudah yang bergururan. Sebagian ada yang masih bertahan dengan melakukan teknik dua kaki. Yaitu tetap mempertahankan koran cetaknya sembari berangsur angur mulai pindah ke versi digital.

Memang tak bisa dipungkiri, kecepatan akses informasi pada saat ini, membuat koran cetak tak mampu lagi mengimbangi. Orang dengan sangat mudah mendapatkan informasi apapun yang sedang terjadi saat itu juga. Mulai dari informasi peristiwa, informasi kriminal, informasi budaya hingga informasi kuliner sekalipun. Tak mesti menunggu lagi diterbitkan esok harinya.

Ditambah lagi dengan gen milenial sekarang yang sama sekali sudah tidak tertarik lagi dengan koran cetak. Contohnya di kantor saya sendiri, meskipun masih berlangganan beberapa koran nasional, jelas terlihat. Koran – koran yang datang masih dan selalu rapi tak tersentuh sampai berhari hari.

Ya begitulah, jaman berubah. Maka produkpun harus berubah mengikuti jaman tersebut.

Blog

Akibat Hapus data gambar di Hosting.

Kemarin iseng login ke cpanel hosting blog. Maksud hati ingin update theme newspaper yang telah dirilis versi 10.3 nya. Pada sidebar sebelah kanan terdapat satu indicator merah pada bagian inodes. Yap, hosting yang kusewa masih membatasi ruang gerak penyewanya dengan inodes file. Paket yang kupilih diberikan inodes sekitar 50ribu saja. Dan si indikator sudah menunjukkan angka 80% lebih. What ….

Mau tidak mau harus bersih bersih file. Biasanya yang menjadi tersangka utama tak lain dan tak bukan adalah file gambar yang diupload. Pada wordpress versi skrg2 ini, lupa mulai versi berapa, satu file gambar yang diupload akan menjadi puluhan file di server. Tergantung ukuran filenya. Itu dikarenakan wordpress akan membuat beberapa versi ukuran dari gambar yang diupload tersebut. Tujuannya sih baik, agar lebih cepat dibuka di device yang berbeda beda.

Tau sendiri kan gadget sekarang ukuran layarnya macam2. Beda dengan jaman dahulu kala, orang buka browser masih kebanyakan menggunakan pc atau laptop. Yang range resolusi layarnya tidak sebanyak yang sekarang menggunakan gadget.

Karena aku sudah menggunakan plugin jetpack. Walaupun yang versi gratis, plugin tersebut dengan baik hati memberikan cdn gambar secara cuma cuma. Nah dengan modal itulah aku berani menghapus semua gambar yang telah diupload untuk blogku Greatnesia.

Ya, semuanya. Hahaha. Awalnya kucek kemarin setelah penghapusan tidak ada masalah. Gambar2 yang telah kuupload untuk tulisan yang telah tayang tetap ada. Karena gambar tersebut sekarang mengarah ke cdn nya si jetpack. 

Tapi ternyata, setelah dicek lagi hari ini. Saya lupa. File gambar logo juga jadi ikut terhapus. Owalah. Terpaksa upload ulang, untung hanya sedikit. Yang agak menjengkelkan, ternyata tulisan yang dijadwalkan alias di schedule, file gambar yang telah di upload belum terhubung ke cdnnya si jetpack, masih mengarah ke hosting. Mampus. Walaupun gak banyak tulisan yang dijadwalkan tapi lumayan juga. Apalagi biasanya satu tulisan bisa berisi lebih dari satu gambar. Lumayan 🙂

curhat

Es Teh Dua Ribu

Dijaman yang serba mahal dan hedon seperti sekarang ini, rasanya sungguh bahagia bener bisa menemukan makanan / minuman enak yang masih dihargai murah. Apalagi di kota besar yang notabennya untuk parkir saja harganya bisa lebih mahal dari barang yang dibeli ditempat kita parkir tersebut.

Beberapa hari yang lalu sebelum pulang dari kantor, seperti biasanya istri akan menanyakan jam berapa saya pulang hari itu lewat aplikasi chat. Kadang kala diselipi dengan titipan untuk membelikan jajanan yang bisa dibeli sembari pulang.

Kali ini yang dititipin agak spesifik. Katanya lagi pengen es teh manis. Tapi tidak mau yang dalam kemasan kotak atau botol plastik. Maunya teh yang masih fresh baru diseduh, lalu ditambahkan es batu.

Untuk memenuhi keinginan istri tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di warung makan pinggir jalan dekat rumah. Tidak ada yang spesial sebetulnya. Begitu saya pesan, sang penjual rumah makan langsung membuatkan es teh manis dengan memasukkan tambahan gula pasir dan es batu yang baru diambil dari dalam lemari pendingin.

Nah, yang bikin kaget adalah ketika pesanan telah selesai. Pastinya yang dilakukan adalah pembayaran bukan. Begitu saya tanya ke penjual warung “Berapa Mbak”? Dijawab dengan santai, ” Dua ribu mas”. Sedikit tak percaya saya coba mengulangi lagi pertanyaan yang sama, namun jawaban yang didapat masih sama.

Tak habis pikir sebenarnya. Padahal saya sudah menyiapkan beberapa lembar uang 2 ribuan. Tapi yang terpakai hanya selembar saja. Ternyata masih ada penjual makanan di kota besar seperti Bandung ini yang tidak terlalu peduli dengan keuntungan yang besar. Padahal saya menyaksikan sendiri proses pembuatan es teh manis nya. Tidak satupun bahan yang digunakan merupakan bahan sisa maupun dikurangi takarannya. Alhamdulillah semoga jualannya berkah.

curhat

Nasib Perokok Seperti Saya

Selepas istirahat kantor bermaksud ke minimarket sebentar untuk beli cemilan sebelum kembali ke ruangan. Persis setelah melakukan pembayaran di kasir, hujan deraspun langsung datang tanpa diundang. Dengan sangat terpaksa menunggu di tempat duduk yang tersedia diteras minimarket tsb.

Maksud hati sembari menikmati udara bandung yang sejuk. Namun apa daya, saya tak sendiri. Saya ditemani oleh orang lain yang asik menikmati udara buatan mereka sendiri yang mengepul. Seolah tak mau kalah oleh udara yang segar dan sehat yang telah diberikan Tuhan dengan gratis.

Mencoba merubah posisi tempat duduk ternyata tak merubah nasib. Karena hujan deras yang turun disertai oleh angin yang bertiup kencang, kepulan itu memenuhi seisi teras. Terpaksa sayapun ikut menikmati udara ngepul yang dibuat oleh 3 orang tersebut.

Semoga saja masih kuat. Itulah nasib perokok seperti saya ini (pasif).

Travel

Sensasi jedot jedot

Sensasi ini akan sering didapatkan bagi saya pribadi ketika harus menempuh perjalanan ke jakarta menggunakan jalan tol layang. Konstruksi yang katanya dirancang untuk tahan gempa ini, dengan sangat terpaksa mengurangi kenyamanan. Apakah harus begitu? Entahlah. Saya bukan orang teknik sipil jadi tidak bisa berkomentar banyak. Tanyakan saja pada ahlinya.

Tapi memang banyak hal dalam membuat atau membangun sesuatu ada 2 hal yang kadang bertolak belakang dan tidak ada pakem batasnya. Seperti contohnya saja dalam membangun perangkat lunak. Kalau kita dan saya ingin membangun sebuah perangkat lunak yang fitur keamanannya agak dilebihkan, biasanya hal ini akan memangkas nilai yang namanya kenyamanan pengguna. Mau didesain semudah dan secantik apapun sistem securitynya, tetap saja itu akan dianggap mengurangi kenyamanan dari sisi user experience.

Begitu juga katanya untuk jalan tol layang ini. Karena menginginkan konstruksi yang bisa tahan terhadap gempa. Maka sambungan antar beton dibuat agak renggang dan memperlebar sambungan. Sambungan inilah yang menyebabkan sensasi jedot jedot tadi. Apalagi kalau duduk dikursi bsrisan ke 3 atau ke 4. Akan semakin seru lagi sensasinya. Semoga saja kedepan ada solusinya.

Review

Tagihan Listrik Shopee

Bukan, tulisan ini bukan ingin menceritakan seberapa besar tagihan listrik dikantor dan digudang shopee perbulannya. Tapi hanya ingin menceritakan pengalaman saya dalam mencoba melakukan pembayaran tagihan listrik melalui aplikasi shopee. Begini ceritanya.

Hal rutin yang biasa saya lakukan setiap awal bulan tentu saja adalah membayar tagihan-tagihan yang sudah jatuh tempo. Salah satunya adalah tagihan listrik. Kebetulan meteran listrik dirumah belum diupgrade, sehingga masih berupa tagihan setiap awal bulan bukan yang menggunakan token listrik.

Meskipun sudah menjadi rutinitas setiap awal bulan. Proses membayar tagihan listrik ini menjadi tantangan tersendiri. Apa itu? Tantangannya tentu saja mencari promo (baca: cashback) mana yang paling besar diantara perang promo para marketplace yang masih bakar-bakar duit. Setelah cek sana sini, kebetulan pada bulan ini yang memberikan promo terbaik adalah shopee. Pikir saya sekalian buat pengalaman mencoba, karena sebelumnya belum pernah melakukan pembayaran tagihan di shopee.

Proses pembayaran tagihan di shopee tidak banyak berbeda dengan marketplace yang lain. Pertama kita akan diminta untuk input no pelanggan listrik kita. Setelah tagihan muncul, barulah melakukan pilihan pembayaran. Bisa menggunakan transfer bank, mini market dll.

Sekilas tidak ada yang aneh setelah proses transfer ke no VA yg saya pilih selesai dilakukan. Namun ada beberapa catatan dari sisi UX (user experience) yang agak ganjil yang saya rasakan. Pertama karena setahu saya fitur pembayaran tagihan di shopee ini adalah fitur baru, tampilannya seolah – olah copas dari tampilan belanja dishopee dan hanya di buatkan menu khusus saja. Sehingga agak aneh jadinya, dimana tagihan listrik saya sudah selesai, tapi statusnya di shopee tetap masih dalam proses karena mengikuti tampilan yang belanja (dalam proses belanja, status transaksi akan tetap dalam proses hingga beberapa waktu setelah barang tiba ditujuan, tombol “pesanan selesai” belum aktif dan tidak bisa dipencet).

Yang kedua dan ini sangat krusial sekali. Shopee tidak memberikan notifikasi apapun (notifikasi aplikasi, email, sms, WA) ketika pembayaran listrik sudah selesai dilakukan. Sehingga saya yang baru pertama kali mencoba jadi bingung sendiri ketika transfer sudah berhasil saya lakukan tapi status transaksi tetap masih dalam proses (kasus pertama tadi). Setelah 30 menit atau lebih barulah tombol pesanan selesai menjadi aktif dan bisa dipencet. Dan harus dipencet manual. Setelah itu baru ada link untuk download struk pembayaran. Makanya saya bilang krusial, karena harus menunggu 30 menit atau lebih tadi dan harus manual untuk mendapatkan struk pembayaran. Padahal dalam rentang waktu 30 menit sebelum tombol pesanan selesai tadi aktif, saya iseng coba cek tagihan listrik diaplikasi lain, ternyata statusnya sudah dibayar. Ini jadi krusial juga kalau shopee ingin seperti marketplace yang lain yang menyasar toko dan warung kecil sebagai agen. Moso nanti agennya harus nunggu 30 menit buat cetak struk pelanggan. Yang ada pelangganya dah marah duluan.

Yah begitulah pengalaman tagihan listrik shopee disaya. Barangkali hanya di aplikasi saya saja, atau kalau memang prosedur di shopee yang begitu.

Blog

Ngeblog Lagi

Iseng iseng coba login di wordpress, ternyata blog saya masih ada. Dan nasibnya sungguh menggenaskan. Tulisan terakhir yang saya buat di blog ini bertanggal 11 Mei 2015. Ya, itu 4,5 tahun yang lalu. Hahahaha.

Mencoba untuk membangkitkan kembali blog ini, saya mencoba sarannya Pak Budi Rahardjo untuk menulis setiap hari. Untuk melemaskan kembali jari jemari yang sudah membatu, maka mantra Pak Budi sepertinya cocok untuk saya kali ini yaitu “kuantitas lebih penting daripada kualitas”.

Biar kayak milenial juga kita, maka resolusi untuk blog ini di tahun 2020 adalah mencoba mewujudkan mantra “menulis setiap hari” tadi. Mari kita buktikan, apakah saya mampu bertahan dengan tantangan yang saya buat sendiri 🙂

Review

Telkom IndiHome Triple Play = Triple Sabar

Beberapa bulan yang lalu saya cukup tertarik dengan produk baru yang digembar – gemborkan oleh telkom yaitu IndiHome yang mereka beri slogan triple play. Dimana dengan produk ini kita akan diberikan layanan telpon rumah, internet dan iptv dalam satu paket. Tapi bukan jenis layanannya yang membuat saya tertarik, tetapi kemudahannya. Dimana untuk tiga layanan tersebut saya hanya akan punya satu tagihan perbulan. Maklum masih banyak cicilan, jadi malas kalau nambah banyak jenis tagihan yang harus dibayar perbulannya 😛 Untuk masalah harga masih relatif dan tentatif sekali, tapi karena saat ini masih diharga promo jatuhnya lumayan banget untuk paket yang saya incar. Meskipun demikian saya belum berani menaruh ekspektasi yang terlalu tinggi untuk produk ini. Seperti yang sudah-sudah yang selalu saya alami, produk Telkom hanya bagus diawal dan payah untuk urusan purna jualnya.

Setelah browsing tentang paket yang ditawarkan, saya coba daftar online diwebnya langsung pada tgl 6 april yang lalu (alamat webnya googling aja yak, males banget kasih backlink 😛 ). Ternyata diluar dugaan beberapa jam kemudian saya ditelpon langsung oleh customer servicenya untuk konfirmasi dan dapat nomer registrasi 31406840. Dalam hati, boleh juga nih, ada peningkatan proses pelayanan. Tapi jadi illfeel lagi ketiga saya dipanggil oleh mbak csnya dengan panggilan uzan (mungkin saking cepatnya jaringan indihome ini, nama yang sudah saya inputkan di form pendaftaran jadi melesat dua huruf awalnya).

Lanjutkan membaca “Telkom IndiHome Triple Play = Triple Sabar”

Ngoprek

Generator RSS menggunakan Codeigniter

Tadi kepikiran untuk menambahkan fitur RSS pada website yang baru saja dibuat yaitu Loker Greatnesia. Awalnya ingin mencari library yang bisa digabungkan dengan codeigniter saja biar lebih gampang. Setelah browsing beberapa tutorial, ternyata tidak terlalu sulit, akhirnya diputuskanlah untuk buat sendiri saja. Tutorial yang saya jadikan patokan dapat dilihat di web ini : Build a RSS 2.0 feed with CodeIgniter?.

Setelah selesai, saya coba validasi dengan menggunakan w3c validator. Ternyata hasil tutorial diatas tidak lulus validasi di w3c. Ada 3 kesalahan validasi yang muncul. Namun setelah mengikuti saran yang diberikan di validator tersebut, berhasil juga menjadi valid. Bagi yang butuh contoh yang sudah saya buat sila cek di github.