Henshin (Berubah)

kr-kabuto-tendou-shoujiBukan, kali ini saya bukan ingin bercerita mengenai cerita tokusatsu buatan jepang itu ataupun turunan lainnya seperti mecha, metal hero ataupun super sentai. Yang ingin saya ceritakan kali ini adalah perubahan yang terjadi pada diri saya sendiri. Disini saya ingin sedikit berbagi pengalaman, dengan tujuan semoga yang membaca tulisan ini dapat mengambil hikmahnya atau menjadikan sebagai bahan inspirasi.

Ceritanya kalau saya tidak salah ingat (harap maklum karena saya termasuk orang dengan tipe yang sering mengalami short term memory loss) berawal sekitar setahun yang lalu, dimana pada saat itu adalah saat kritis dalam masa studi saya disalah satu perguruan tinggi di bandung yang terletak di jalan ganesha #eh. Kenapa disebut kritis, karena pada saat itu adalah jatah terakhir saya masih boleh mengambil semester. Pilihannya tinggal dua, meloloskan diri atau diloloskan secara paksa 😛 .

Dimasa yang bisa disebut masa krusial tersebut, sering kali saya mengalami stagnan dan kebosanan apalagi dikala mengalami kebuntuan untuk menuliskan apa yang ada dipikiran menjadi tulisan agar segera berbentuk buku t*s*s (sengaja disamarkan, agar tidak ada pembaca yang menjadi sensi :)) ). Nah, disaat seperti inilah saya mencoba mencari pelampiasan agar pikiran tidak semakin kacau. Biasanya yang menjadi pelampiasan saya berupa main games di komputer, futsal bareng teman2 atau pergi kuliner ditempat yang diinginkan. Sering kali yang dilakukan adalah main games atau pergi kulineran, karena untuk futsal agak susah untuk mencocokkan jadwal dengan teman2 yang lain (seringnya malah gak jadi).

Baca lebih lanjut

Run for My Life

Biasanya setelah mengikuti sebuah event lelarian, saya akan mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan baru di blog ini. Untuk kali ini terjadi pengecualian. Hal ini lebih disebabkan oleh kesibukan (lebih tepatnya kemalasan) saya yang menyebabkan tidak terwujudnya hal tersebut. Untuk tulisan selebihnya yang akan saya ceritakan mencakup 3 event lelarian yang berhasil saya ikuti dalam kurun waktu 3 bulan belakangan ini. Itu artinya tepat satu event yang berhasil saya ikuti dalam setiap bulannya.

Event pertama adalah Adidas KOTR (king of the road) yang saya ikuti pada bulan september silam. Event ini memang sudah menjadi incaran dan target event yang harus saya ikuti tahun ini. Tepat setahun yang lalu, dimana saya mulai terkena virus lari, event inilah yang paling banyak mendapatkan rekomendasi untuk diikuti. Langsung saja ketika registrasi pendaftaran dibuka, tanpa basa-basi langsung daftar. Dan tidak tanggung2, biar sekalian nyelam, saya mendaftarkan diri untuk mengikuti kategori unik yang terdapat di event tersebut, yaitu kategori 16.8K. Padahal lari terjauh saya sebelum mengikuti event ini hanya sekitar 10-12 kilometer saja.

Tepat pada tanngal 29 september 2013, akhirnya saya mengikuti acara ini, meskipun dengan penuh keraguan apakah berhasil menyelesaikan jarak yang belum pernah saya tempuh sebelumnya. Event sendiri diselenggarakan di daerah BSD. Saya berangkat ke lokasi dari veldrome rawamangun menggunakan shuttle bus yang telah disediakan oleh pihak panitia.

Baca lebih lanjut

Menjelajah Taman Hutan lewat Tahura Trail

Semenjak akhir 2012 kemaren, saya mulai aktif melakukan olahraga berlari dari kenyataan. Hobi ini saya lakukan sebagai alternatif dari olahraga favorit saya yang sudah jarang dilakukan yaitu sepakbola dan futsal. Olahraga kaki tersebut jarang dilakukan karena membutuhkan minimal 2 tim untuk melakukannya. Dimana pada jadwal yang telah ditentukan untuk bermain bersama, terkadang banyak teman-teman yang tidak bisa. Karena itulah, sebagai pelampiasan, dimana dalam olahraga sepakbola juga kebanyakan berlari, maka hobi ini langsung klop. Apalagi akhir2 ini olahraga lari sedang marak di Indonesia, yang ditandai dengan semakin banyaknya event lomba lari yang terlaksana selama tahun 2012 kemarin.

Pada awal mencoba untuk berlari ini, saya hanya kuat berlari secara kontinu (terus menerus) selama 10-15 menit saja, dengan jarak lari (hasil perhitungan aplikasi endomondo dengan bantuan GPS) sekitar 1-2 km. Meskipun sebelumnya sering berolahraga futsal, tetapi ketika dicoba untuk berlari tanpa henti, tetap terasa berat. Setelah mencoba rutin selama sebulan, badan pun mulai menyesuaikna diri. Dibulan kedua sayapun sudah mampu untuk berlari tanpa henti selama 30 menit meskipun masih dengan pace (kecepatan) yang sangat pelan (sekitar 8-9 menit / km). Namun saya yakin, jika tetap konsisten nantinya akan bertambah terus.

Baca lebih lanjut