Ubuntu Wireless dan Toucpad HP Mini 210

Barusan nyoba install ubuntu 10.04 di HP mini 210. Sempat bingung juga, karena baru pertama kalinya install OS menggunakan USB Flash Disk. Setelah googling sebentar, ketemu cara yang paling sesuai. Cukup dengan download program untuk membuat loadernya dan punya file iso ubuntunya (Kebetulan juga file iso ubuntu yang barusan di dowload belum sempat di burn ke CD) jadi deh installer versi Flash disk nya.

Beres instalasi, dan menikmati tampilan baru ubuntu, muncul masalah baru.
– Wirelessnya tidak terdeteksi.
– Touchpad klik kanannya tidak jalan.
Ternyata dua masalah tersebut sudah menjadi masalah umum, alias semua yang mencoba mengalami hal yang serupa dengan HP Mini 210 nya.

Untuk masalah wireless, hal tersebut dikarenakan HP Mini menggunakan chipset broadcom, untuk solusinya :
– Gunakan koneksi kabel terlebih dahulu.
– Ketikkan perintah berikut di terminal

sudo apt-get update
sudo apt-get install bcmwl-kernel-source

Sedangkan untuk masalah touchpadnya tinggal ketik perintah berikut di terminal :

sudo su
echo options psmouse proto=exps > /etc/modprobe.d/psmouse.modprobe
reboot

Semoga Membantu !

Iklan

Habis Gelap Terbitlah Terang

Habis Gelap Terbitlah Terang, itulah judul buku dari kumpulan surat-surat Raden Ajeng Kartini yang terkenal. Surat-surat yang dituliskan kepada sahabat – sahabatnya di negeri Belanda itu kemudian menjadi bukti betapa besarnya keinginan dari seorang Kartini untuk melepaskan kaumnya dari diskriminasi yang sudah membudaya pada zamannya.

Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) adalah seorang tokoh Jawa  dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi  atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

Baca lebih lanjut